
Menurut sumber dari 
menyatakan bahwa energi yang menerangi bumi datang dari Matahari.
Sebagian besar energi yang membanjiri planet kita ini adalah radiasi
gelombang pendek. Ketika energi ini memasuki permukaan Bumi, ia berubah
dari cahaya menjadi panas dan menghangatkan Bumi. Permukaan bumi akan
memantulkan kembali sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah
gelombang panjang ke luar angkasa, walaupun sebagian tetap terperangkap
di atmosfer Bumi. Gas-gas tertentu di atmosfer termasuk uap air, karbon
dioksida, dan metana akan menjadi perangkap radiasi ini. gas-gas ini
menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi
dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi.
Akumulasi radiasi matahari di atmosfer Bumi ini menyebabkan suhu Bumi
menjadi semakin menghangat.
Kenapa gas-gas ini sering disebut sebagai gas rumah kaca?
Salah satu alasannya adalah mekanisme pemanasan ini sama seperti yang
terjadi di rumah-rumah kaca yang digunakan untuk perkebunan di
negara-negara sub tropika seperti di Eropa dan Amerika Serikat. Biasanya
para petani menggunakan rumah kaca di saat musim dingin tiba.
Tanaman-tanaman yang ditanam di dalam rumah kaca ini akan tetap hidup
dan tidak mati membeku oleh pengaruh musim dingin karena kaca akan
menghalangi panas metahari yang masuk dan memantulkan kembali keluar.
Rumah kaca ini bisa digunakan untuk pembibitan dan berfungsi untuk
menghangatkan tanaman yang berada di dalamnya. Rumah kaca ini sendiri
sudah ada sejak abad ke-16 di Eropa dan biasa digunakan untuk
membudidayakan mawar, lobak, sawi, brokolo, atau tanaman lainnya di
musim dingin.
Inilah
mengapa sering terjadi kesalah pahaman di antara kita bahwa efek rumah
kaca adalah disebabkan oleh adanya rumah-rumah kaca yang terlalu banyak
di perkotaan,

tapi
lebih dikarenakan oleh emisi karbon yang terlalu banyak di angkasa,
sehingga menyulitkan panas memantul kembali ke luar angkasa. Gas-gas
seperti uap air, karbon dioksida, dan metana berfungsi sebagaimana kaca
dalam rumah kaca, sehingga gas-gas ini dikenal sebagai gas rumah kaca.
Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin
banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Orang yang pertama kali
menyingkap fenomena efek rumah kaca ini adalah Jean-Baptise Joseph
Foureurer sebagai ahli fisika dan matematika dari Perancis. Penemuan
Fourier ini diteruskan oleh seorang fisikawan Swedia yang bernama Svante
Arrhenius pada tahun 1894.
Salah satu gas rumah kaca itu adalah CFC. CFC merupakan kepanjangan
dari (Chloro Fluoro Carbon) atau yang disebut sebagai Freon, CFC ini
menyerang Ozon, akibatnya kandungan Ozon di angkasa menipis dan
mengakibatkan lubang di kutub utara dan selatan, sehingga UV
(ultraviolet) mampu menerobos masuk ke atmosfer dan menyebabkan
terjadinya radiasi. Radiasi dari UV ini akan mengakibatkan kanker
kulit jika terkena langsung kulit manusia dalam waktu yang cukup lama,
apalagi bagi manusia yang mempunyai hobi berjemur. Jika lapisan ozon
semakin menipis dan berlobang, maka bumi ini seakan telanjang dan tidak
ada lagi pelindung dari radiasi UV. CFC ini dua ribu kali lebih efektif
memperangkap radiasi gelombang panjang daripada karbon. Menurut CFC ini
dapat bertahan di atmosfer selama beberapa dekade, sedangkan satu
molekul karbon dioksida dapat bertahan sampai 100 tahun, satu molekul
nitrous oksida selama 170 tahun, dan satu molekul metana selama 10
tahun. 
Gas rumah kaca lainnya adalah metana. Metana adalah gabungan kimia antara unsur formula molekul CH4.
Metana ini cukup melimpah dan pembakarannya cukup bersih, sehingga bisa
dijadikan bahan bakar dan biasanya dikonversi menjadi metanol. Metana
dihasilkan secara alami oleh bakteri yang hidup dan tumbuh subur di
rawa-rawa. Bakteri ini menghasilkan metana di dalam selnya. Metana juga
terdapat di dalam sistem pencernaan binatang. Binatang pemamah biak
seperti sapi dan kambing mempunyai mikroba dalam perutnya yang biasanya
digunakan untuk mencerna rerumputan. Beberapa mikroba ini melepaskan
metana sebesar 250 gram setiap harinya.
Metana juga dihasilkan oleh padi di sawah.
Proses pelepasan metana ini terjadi karena tumbuhan seperti padi pasti
membutuhkan genangan air yang cukup. Sistem pertanian dengan sawah
semacam ini menciptakan lumpur yang menghasilkan bakteri penghasil
metana. Metana akan dilepaskan ke udara saat sawah mulai dikeringkan.
Selain itu, padi ini sendiri juga melepas beberapa metana dan budidaya
padi ini juga memproduksi nitrogen dioksida dari peruraian pupuk. Dengan
peningkatan kebutuhan beras sebagai makanan pokok manusia terutama bagi
penduduk di Asia, maka sawah-sawah semakin luas dan jumlah pelepasan metana di atmosfer bumi akan meningkat sangat tajam.
Menurut Enviromental News Network
menyimpulkan bahwa budidaya padi adalah satu di antara penyebab utama
peningkatan emisi metana-salah satu gas rumah kaca yang 21 kali lebih
berpotensi menyebabkan efek rumah kaca dibandingkan karbon dioksida yang
menyebabkan kerusakan ozon dan kenaikan suhu. Untuk mereduksi emisi gas
ini, salah satu yang dilakukan oleh International Rice Research Institude (IRRI)
adalah pada tahap awalnya memperbaiki vareitas padi yang tahan terhadap
panas dan kemungkinan akan menghasilkan padi yang tidak begitu besar
mengeluarkan emisi gas rumah kaca. Tapi masalah lain yang ditimbulkan
oleh varietes padi yang dihasilkan dari tumbuhan trangenik
(tanaman hasil penyilangan dari varietes unggul dan merupakan sebuah
rekayasa genetika) ini adalah efek buruk terhadap ketergantungan petani
untuk mendapatkan benih padi, insektisida, dan pupuk dari industri
pertanian yang cukup besar tanpa bisa menjadi mandiri.
Sementara itu di Thailand, sosialisasi efek global warming terhadap petani
adalah dampak buruk pembakaran sisa tanaman yang akan menghasilkan
karbon dioksida dan pengairan yang berlebihan akan menghasilkan gas
metana. Sedangkan di Indonesia, global warming
ini masih menjadi sebatas wacana ilmiah di antara kaum intelektual yang
sangat terbatas dan belum dipahami secara menyeluruh kepada seluruh
penduduk Indonesia
dan terutama kepada petani, sehingga belum ada antisipasi yang
meyeluruh dan koordinasi yang baik untuk mereduksi efek global warming.
Metana
juga dihasilkan oleh sampah. Diperkirakan 1 ton sampah padat akan
menghasilkan 50 kg gas metana. Pada tahun 2020 diprediksi sampah di Indonesia
mencapai 500 juta kg perhari atau 190 ribu ton per tahun, sehingga
kemungkinan besar akan mengemisikan gas metana sebesar 9500 ton per
tahun. Sampah-sampah ini sebenarnya bisa dijadikan listrik dengan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) seperti yang saat ini sedang dirancang di Bandung.
Tapi sayang pembangkit listrik semacam ini memakan biaya yang cukup
besar, tapi hanya mampu menghasilkan kapasitas listrik yang terbatas.
Belum lagi pencemaran dari zat dioksin yang berbahaya bagi manusia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar